Mengenal Pengelolaan Hutan Masyarakat di Kabupaten Sidrap

Sumberdaya hutan merupakan sumberdaya alam yang potensial dalam menopang pembangunan daerah terutama dari perspektif ekosistem, dimana sumberdaya hutan diperlukan untuk pemeliharaan fungsi lahan/tanah, air, udara, iklim, dan lingkungan hidup sebagai sistem penyangga kehidupan. Sedangkan dilihat dari perspektif ekonomi, sumberdaya hutan mampu mendukung perekonomian masyarakat local karena dapat menghasilkan berbagai komoditas yang bernilai ekonomis tinggi, baik hasil kayu dan hasil hutan non kayu seperti rotan, damar, aren, madu maupun sebagai obyek wisata/pemanfaatan jasa lingkungan.
Kabupaten Sidenreng Rappang termasuk salah satu kabupaten yang kondisi hutannya masih memenuhi unsur penataan ruang dengan prosentase 37,79 % luas kawasan hutan atau sekitar 71,177 km2 dari luas wilayahnya yang mencapai wilayah 188.325 km2 dengan kondisi vegetasi berhutan 51.167.00 hektar dan tidak berhutan 14,069.00 hektar.
Berdasarkan fungsinya kawasan hutan di Kabupaten Sidenreng Rappang terbagi tiga yaitu:
1. Hutan Produksi Terbatas (HPT) adalah hutan yang secara alamia mampu memberikan mamfaat produksi kayu dan hasil hutan lainnya secara terbatas dan selektif, di sidrap hutan ini seluas 28.778,2 ha yang terdapat di 2 kelompok wilayah hutan yaitu kelompok hutan Latimojong dan Nepo-Nepo yang penyebarannya berada di Kecamatan Pitu Riase, Pitu R`iawa, Tallu LimpoE, Wattang Pulu dan Panca Lautang.
2. Hutan Lindung (HL), adalah hutan yang berfungsi mengatur tata air,memelihara kesuburan tanah serta mencegah banjir dan erosi,jenis hutan ini seluas 39,532,6 Ha yang terdapat di tiga kelompok hutan yaitu di kelompok hutan latimojong, batu milla dan alakarjae dengan penyebaran di kecematan Pitu Riase, Pitu Riawa, Kulo dan Kec. Panca Lautang
3. Hutan Wisata (HW), adalah hutan yang berfungsi sebagai penyedia jasa rekreasi dan jasa pariwisata lainnya. Di sidrap hutan ini mempunyai luas 500 ha yang terdapat di kelompok hutan Batu Milla Kec. Kulo
Hal tersebut didukung berkembangnya berbagai inisiatif masyarakat yang berkontribusi terhadap pemeliharaan hutan dengan berbagai model pengelolaan hutan berbasis masyarakat sebagai upaya untuk menjaga fungsi hutan (sebagai penyedia air, mencegah longsor, banjir dan erosi) dan peningkatan kesejahteraan masyarakat di dalam dan di sekitar hutan. Mengingat pentingnya pengembangan inisiatif-inisiatif pengelolaan hutan oleh masyarakat ke depan maka perlu mengkomunikasikannya kepada parapihak agar pengelolaan hutan yang dilakukan oleh masyarakat dapat menunjang peningkatan kesejahteraan masyarakat dan tetap mempertahankan kelestarian serta fungsi hutan. Tidak justru membatasi akses masyarakat mengelola hutan sementara mereka sudah telah mengembangkan cara-cara atau model-model pengelolan hutan oleh masyarakat yang sekarang ini dipandang sebagai system pengelolaan hutan masa depan.
Pengembangan dukungan model pengelolaan hutan oleh masyarakat ini oleh sebahagian kalangan menganggapnya sebagai alat resolusi dari berbagai permasalahan hutan yang selama ini muncul. Misalnya, konflik penetapan kawasan tersebut atau tumpang-tindih pal batas kawasan dengan wilayah kelola masyarakat, menyempitnya penghidupan masyarakat karena tidak ada akses pengelolaan hutan, penghasilan masyarakat berkurang yang berimplikasi pada makin tingginya angka kemiskinan di sekitar dan di dalam kawasan hutan.
Yayasan Sahabat Masyarakat Sulawesi (SMS) bersama Sulawesi Community Foundation (SCF) menginventarisir pengalaman-pengalaman masyarakat di daerah ini yang memiliki pengetahuan lokal mengelola hutan berdasarkan kondisi sosial, budaya dan karakteristik wilayahnya. Cara seperti ini tersebar di 5 lokasi baik di dalam dan sekitar kawasan serta di luar kawasan hutan. Lokasi yang dimaksud yaitu: 1) Dusun Makkoring Desa Lasiwala, 2) Desa Leppangeng, 3) Desa Mattirotasi, 4) Desa Kalempang, dan 5) Desa Maddenra, serta 6 ) Desa Betao Riawa. Pengelolaan hutan ini dilakukan secara personal maupun berkelompok/komunal. Kecenderungan model pengelolaan hutan yang ada berupa; (1) Pengelolaan Hutan Desa, (2) Pengelolaan Hutan Rakyat, (3) Pengelolaan Hutan Kemasyarakatan/Sosial Forestry, dan (4) Pengelolaan Hutan Adat.

Iklan

3 responses to “Mengenal Pengelolaan Hutan Masyarakat di Kabupaten Sidrap

    • berdasarkan identifikasi melalui sebuah studi pengelolaan hutan masyarakat, di Kabupaten Sidrap terdapat 5 lokasi..di Bulu Dua Desa Lasiwala, Cenreanging Desa Maddenra, Leppangeng, Bola Tallu Desa Betao Riawa, dan Kalempang….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s